[STORIES] Geming Cinta Nayanika

So, this story was planned to be a series which I expected to be done since last year. But, 'cause I didn't have that much time back then (even now) and if you guys want to read a whole series, then you need to wait.

Just like they said, patience is a key.

Note: Also, Nayanika is gonna be the main character that I would love to put into another stories. Yeah, I've wrapped her in my head.


“Kau membuatku bertanya-tanya,” ucapku sambil meletakkan minuman yang sedari tadi kupegang di atas meja.

Kutatap lelaki didepanku yang sedikit terkesiap karena suaraku barusan. Aneh, kuyakin suaraku mengalun selayaknya aku biasa berbicara. Tak ada yang menarik dari ucapanku, hanya kalimat pembuka obrolan biasa. Lantas kenapa dia terkejut?

Sejenak aku heran apa yang membuatnya sampai terkesiap begitu. Tapi setelah melihat reaksinya yang mirip pencuri tertangkap basah, barulah aku sadar. Sedari tadi, lelaki ini—Airlangga melamun dengan pandang memuja tertuju pada gadis yang menjerat hatinya.

Gadis itu bernama Swastamita.
Berambut panjang kecoklatan, mata bulat jernih, dan senyum manis menenangkan.

Tiap kali melihatnya, aku selalu merasa ada bagian dari wajahnya yang serupa denganku. Mungkin karena dia terlahir sebagai sepupuku dan kami harus berbagi darah yang sama.

Tapi sekalipun begitu, aku tetap tak bisa menandinginya. batinku miris yang segera kualihkan dengan bersikap seolah aku baik-baik saja.

Apa ada sesuatu di wajahnya sampai kau melihatnya seperti itu?” tanyaku pada Airlangga yang kini balik menatapku.

“Seperti apa?” tanyanya.

“Seperti,” Lidahku terasa kelu saat hendak mengatakannya, tapi kutekan rasa itu sekuat mungkin. “orang buta yang pertama kali melihat matahari.”

Airlangga tersenyum sambil memutar bola mata. “Kau berlebihan.”

Kau yang berlebihan.” ucapku tak terima. “Sejak tadi kau melihatnya terus, bahkan mengacuhkan teman terbaikmu yang duduk tepat di depanmu.”

Ketika sebutan itu terlontar dari mulutku, aku merasakan getir saat Airlangga tak menyangkalnya. Huh, kenapa dia harus menyangkal? Toh hubungan kami memang hanya sebatas teman.

“Benarkah? Aku tak sadar.” Airlangga berkata sembari tersenyum meminta maaf. Senyum itu ditujukan untukku, tetapi sayangnya, tak bisa kumiliki.

Mataku mengarah pada Swastamita yang sedang berbincang di sudut kantin, lalu beralih ke Airlangga. Katakan padaku alasanmu menyukainya.”

“Apa alasan dibutuhkan untuk menyukai seseorang?” Mata Airlangga jelas menatapku geli.

“Ya.” jawabku cepat, tanpa pikir panjang.

Sedetik berlalu, Airlangga hanya menatapku dalam diam, kemudian berkomentar, “Bukankah ada yang bilang kalau cinta tak butuh alasan?”

Kutatap balik lelaki ini, mendapati matanya yang hitam jernih memantulkan refleksiku. Aku, Nayanika, gadis yang tak kurang satu apapun, tapi gagal meraih hatinya.

Tanpa sadar, satu senyum miris terbentuk di bibirku. Kucoba menjawab pertanyaan Airlangga dengan mengesampingkan getir di tenggorokanku.

“Sebelum kau mencintai seseorang, kau harus menyukainya.” Nada suaraku sedikit bergetar. “Sebelum menyukainya, kau harus bertemu dengannya. Setelah bertemu, barulah kau bisa menyimpulkan kalau kau menyukainya.” Senyumku mungkin terlihat aneh karena saat ini yang sedang kubayangkan justru sosok di depanku. “Karena rambutnya halus, matanya cantik, senyumnya menawan, cara bicaranya menyenangkan, dan berjuta alasan lain.”

Aku tak tahu apa yang sedang dicari Airlangga dari kedalaman mataku, tahu-tahu dia mengajukan pertanyaan yang seolah mengujiku. “Bagaimana jika kubilang karena Mita istimewa?”

Istimewa?

Kutolehkan kepala ke arah Swastamita duduk. Kuamati dia dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Tak ada riasan seperti pesolek. Tubuh hanya dibalut seragam putih abu-abu tanpa ada aksesoris. Bahkan sepatu yang dia kenakan sedikit lusuh.

“Jujur saja, aku tak melihat ada yang istimewa pada diri gadis itu.” kataku sambil menatap Airlangga heran.

Mendengar komentarku, kapten tim basket di sekolahku ini justru tertawa. “Kau benar. Tak ada yang istimewa dari dirinya. Dia sama seperti kebanyakan gadis di sekolah ini.”

Tentu saja ucapannya membuatku bingung. Sebelum aku sempat membuka mulut, Airlangga lebih dulu bertanya, “Menurutmu kenapa aku menyukainya?”

“Kuakui dia cantik—sama seperti ibunya.” jawabku tanpa pikir panjang.

Airlangga tersenyum. “Kau jauh lebih cantik.”

Aku tertegun. Jika saja dia mengatakannya tanpa ada gadis lain dihatinya, maka aku pasti sudah melompat kegirangan sekarang. Sayangnya, posisi Swastamita tak akan bisa digeser dengan mudah.

Karena ketika seseorang merasakan cinta, maka akan sangat sulit untuk menghilangkannya. Seperti kecanduan, setidaknya itulah yang kurasakan.

Like a stain, you are.

Bagaimanapun, Airlangga tak boleh tahu apa yang kurasakan. Aku tak mau persahabatan kami rusak hanya karena cintaku yang salah arah. Jadi, kututupi itu semua dengan berkata sombong. “Aku tahu. Sudah kupastikan dengan melihat cermin ajaib milik ibu tiri Snow White dan dia berkata kalau aku yang tercantik di sekolah ini.”

“Itu berarti aku tak memprioritaskan penampilan fisik.” ucapnya tenang sembari meneguk jus jeruk yang dia pesan.

“Kalau begitu kualitas otak? Dia cukup pintar.”

Lagi-lagi Airlangga tersenyum. “Kau jauh lebih pintar.”

Sebenarnya dia mau mempermainkan hatiku atau bagaimana? Aku menggerutu dalam hati, berlawanan sekali dengan jantungku yang berketak-ketuk makin cepat.

“Itu benar. Aku bahkan mengalahkannya saat IOAA (International Olympiad on Astronomy and Astrophysics) bulan lalu.”

“Kecerdasan juga bukan yang kulihat darinya.” Kini kue cokelat yang kupesan sudah beralih ke mulutnya. Aku tak keberatan karena terlalu fokus pada pembicaraan kami.

“Bagaimana dengan nama besar keluarga?” tanyaku dengan nada menantang. “Mita anak tunggal dan jika kau menikah dengannya, maka seluruh harta keluarganya akan menjadi milikmu.”

“Kalau aku ingin mengeruk habis harta seseorang, seharusnya aku memilihmu.” Airlangga menatapku geli—seolah ada tomat merah besar yang menempel di hidungku, menjadikanku badut.

Ah, tentu saja. Uang bukan hal yang bisa menggerakkan hatinya. pikirku paham.

Kalau begitu apa yang membuat Airlangga menyukai Swastamita—sepupu yang intensitas kedekatannya denganku hanya mencapai 1% itu?

Mungkin karena melihat alisku berkerut sembari menatap Swastamita atau karena hal lain, Airlangga mendadak berucap, “Sebagai sepupunya, kau terlihat tak terlalu menyukainya.”

“Aku bukannya tak menyukainya,” kataku membela diri. “aku hanya—“ marah, kesal, terhina, tidak terima, dan... iri, karena dia bisa mendapatkanmu bahkan tanpa melakukan apapun!

Tak kulanjutkan ucapanku yang terpotong, dan beruntungnya, Airlangga sama sekali tak mendesak. Kami diam selama beberapa saat, hingga suaranya kembali menyapa telingaku.

“Tentang alasanku menyukai Mita,” ucapnya lirih, menjadikan hanya kami berdua yang mampu mendengar. “kenapa kau penasaran sekali?”

Karena dengan begitu aku bisa berubah menjadi seperti yang kau inginkan, dan mungkin, mungkin aku bisa meraih bagian hatimu yang selama ini tertutup untukku. batinku penuh sesak, membuatku bisa saja menangis karenanya.

Alih-alih mengatakan kebenaran, mulutku rupanya sudah terlatih untuk bicara berkebalikan dengan hatiku. “Karena kau membuatku semakin jengkel! Semua alasan masuk akal yang kuucapkan tak ada yang kaubenarkan. Kau justru bilang kalau aku lebih cantik, lebih pintar, dan keluargaku lebih terhormat. Kalau itu semua benar, lalu kenapa kau—“ tak memilihku?

Ah, hampir saja. Beruntung kata terakhir sempat kutelan melalui tenggorokanku yang terbakar akibat menahan isak agar tak keluar.

Dengan susah payah kutatap Airlangga tepat di mata. “Apa susahnya mengatakan alasan mengapa kau menyukai Mita?”

Airlangga tertegun. Matanya tak lepas memandangku. Seolah dia tengah membaca perasaanku lewat kedua iris mataku. Hal itu membuatku tersentak. Mungkin dia tahu. Mungkin dia sadar bahwa... bahwa aku tak tulus menjadikannya sahabat.

Cepat-cepat kualihkan pandang, karena saat menatapnya, aku akan semakin terjerat. Sedangkan saat menatapku, Airlangga akan semakin tahu apa yang kurasakan.

“Nayanika,” lafal Airlangga selembut beledu. “kau adalah gadis yang penting di hidupku. Kau berani, ceria, dan istimewa dengan caramu sendiri.”

Kutatap Airlangga dari balik bulu mataku. Matanya yang tenang berpijar hangat. “Begitupun Swastamita. Dia juga istimewa dengan caranya sendiri.” lanjutnya.

Aku tak mampu berucap. Melihat raut wajah Airlangga yang dipenuhi bias bahagia saat membicarakan Swastamita membuatku bisu sesaat.

Dengan senyumnya, Airlangga berkata, “Alasanku menyukainya adalah karena dia Swastamita. Sekalipun ada banyak gadis lain yang jauh lebih cantik, lebih pintar, dan lebih terhormat, aku tak bisa menyangkal kalau yang hatiku inginkan adalah sosoknya.”

Es teh yang kuteguk terlalu cepat membuatku tersedak. Dengan segera kusembunyikan agar Airlangga tak tahu aku sempat tersedak saat dia bercerita tentang sepupuku.

Kutatap lelaki ini dan kuhembuskan napas putus asa. Kalau alasannya seperti itu, bagaimana mungkin aku bisa merebutmu darinya?

“Wah, itu terdengar seperti Airlangga yang kukenal.” Suaraku bergetar, tapi sepertinya Airlangga tak memperhatikan.

“Apa aku membuatmu terkesan?” Kilat jahil dimatanya muncul. “Kalau begitu kau harus jatuh cinta pada lelaki sepertiku.”

“I just did.” gumamku pelan. Kuhiraukan suaraku yang berdecit sakit, juga kobaran rasa pahit di lidahku.

Tangan kanan Airlangga meraih puncak kepalaku dan mengacak rambutku pelan. Dia memamerkan senyum yang paling kusuka, senyum lebar yang membuatnya tampak seperti kanak-kanak.

Pahit yang kurasakan cukup sederhana, seperti sedak teh manis di tenggorokanku saat Airlangga mulai bercerita tentang Swastamita.

Aku tahu tak ada lagi yang bisa kuperbuat. Jika lelaki ini memang menginginkan sepupuku, maka tak ada yang lebih kuinginkan selain melihatnya bahagia.

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram