[STORIES] 7 Days

This story was created when I still in my last class of Junior High School. So, forgive me if its too..., sad, depressing, and frustatingly sad :D



Sejak sore itu, segalanya terasa berbeda. Bukan kehidupan di sekelilingku yang berubah, melainkan caraku memandang kehidupan yang tak lagi sama. Aku tak bisa tertawa bebas seperti dulu. Aku tak bisa bicara banyak tentang segala hal seperti dulu. Aku tak bisa tersenyum bodoh seolah tak ada duka dalam duniaku seperti dulu. Bahkan untuk berjalan beberapa langkah saja rasanya susah sekali.

Saat melihat dokter memasuki ruanganku kala itu, aku merasa cemas sekaligus takut. Entah karena tatapannya yang menyiratkan belas kasihan, atau karena kedatangannya dibarengi dengan kedua orang tuaku. Yang mana saja sama-sama membuatku khawatir.

Ketika dokter selesai menyampaikan padaku tentang sesuatu yang kutakutkan, aku bisa merasakan kedua mataku membelalak. Suaraku terhenti di tenggorokan hingga menimbulkan gumaman tak jelas. Tanpa sadar, aku mencengkram selimut rumah sakit lebih kuat. Kugelengkan sedikit kepalaku, memastikan kupingku tak salah dengar. Tujuh hari? Apa dokter ini gila?

Kutolehkan kepala ke arah kedua orang tuaku. Tampak mata mereka sembap, yang mungkin tak jauh beda denganku sekarang. Kutatap lagi dokter dihadapanku. Matanya memancarkan permintaan maaf yang sangat besar. Kurasa dia meminta maaf karena harus memberitahukan perihal penyakit itu padaku, atau justru karena dia merasa gagal sebagai seorang dokter.

Satu yang terus berputar di kepalaku hingga kini, waktu yang kumiliki hanya sebatas tujuh hari. Waktu hidupku yang bisa kuhitung mundur.

Hari ke-1
Sesaat setelah tersadar dari lamunanku, aku berteriak-teriak seperti orang tak waras. Kusingkap selimut di kakiku dan bergegas menuju bufet di pojok ruangan. Kujatuhkan gelas serta mangkuk berisi bubur yang harusnya kumakan. Bunyi pecahan kaca membuat ruangan yang mulanya sepi menjadi ramai sesaat.

Aku lupa kalau di tangan kiriku terpasang selang infus, hingga tanpa sadar botol infus itu telah jatuh bersama dengan tiang besi yang menyangganya. Kutatap cairan merah yang mengalir keluar dari pergelangan tangan kiriku. Rasanya sedikit pedih, tapi itu tak melebihi sedihnya aku memikirkan matiku yang semakin dekat.

Kugenggam erat helaian rambutku sambil berjongkok. Aku tak peduli pada darah yang mengalir semakin deras hingga mengubah air infus menjadi merah. Samar-samar, kudengar derap langkah kaki mendekati ruangan ini.

Hari ke-2
Aku tak tahu mengapa tiba-tiba aku berlari ke arah kamar mandi sedetik setelah aku bangun. Dan seperti orang kesetanan, kupukul air di dalam bak mandi hingga terciprat kemana-mana. Tak puas, kuarahkan kepalan tanganku ke kaca di samping bak mandi. Sejenak kutatap pantulan di cermin dengan pandangan kaget.

Seseorang di cermin itu memiliki rambut hitam yang kusut. Dibawah matanya ada kantung besar berwarna keunguan. Pipinya terlalu cekung seperti orang kurang makan. Dagunya lebih lancip dari orang kebanyakan. Hanya bentuk bibirnya yang masih terlihat seperti aku, dibalik warnanya yang merah pucat. Kutatap orang itu—aku—dengan pandangan terheran-heran. Apa benar itu aku?

Hari ke-3
Ketukan pelan yang berasal dari pintu membuyarkan lamunanku. Kualihkan pandangan ke arah datangnya suara. Beberapa detik menunggu, muncullah sesosok yang kupikir tak akan pernah datang.

Seorang lelaki berkemeja biru laut melangkah pelan menghampiriku. Lelaki itu tersenyum padaku. Senyum yang membuatku lupa dimana tempatku berpijak. Senyum yang entah sudah berapa lama tidak kulihat. Wajah rupawannya membuatku ternganga. Sudah berapa kali aku jatuh cinta pada lelaki ini?

Dia mengulurkan bunga Primrose ke hadapanku. Kuterima uluran bunga itu dengan kening berkerut. Setahuku, Primrose memiliki dua arti. Yang pertama, ‘aku tak bisa hidup tanpamu’ dan yang kedua, ‘ketidak tetapan’. Entah yang mana yang ditujukan buatku.

Hari ke-4
Menatap Airlangga—nama lelaki itu—menjadi kebiasaanku sekarang. Setidaknya kegiatan ini mengalihkanku dari merusak barang-barang di ruangan ini. Lagipula, tidak salah ‘kan kalau aku menatap kekasihku sendiri?

Matanya yang berkilau lembut, kedua alisnya yang hampir menyatu, hingga aku menangkap sesuatu yang mengganjal. Rambutnya sedikit lebih panjang dari yang terakhir kali kuingat. Sejak kapan Airlangga yang selalu ingin terlihat rapi membiarkan rambutnya memanjang?

Ingin kutanyakan, tapi urung. Aku tak mau merusak suasana tenang diantara kami. Tak ada satupun dari kami yang bicara. Tapi anehnya, aku merasa nyaman dengan keterdiaman ini. Seperti dibuai dalam gendongan ibunda.

Hari ke-5
Semangat yang kukira sudah lenyap, hari ini mendatangiku lagi. Semangat untuk hidup. Semangat untuk terus tersenyum meskipun ini sudah hari kelima. Itu berarti masaku membuka mata tinggal dua hari lagi. Bukannya aku berputus asa, hanya saja aku sudah merasakan sakitnya. Sakit yang seperti melemaskan tulangku lalu meremuknya perlahan-lahan. Entah sudah berapa kali hidungku mengeluarkan darah dalam satu hari. Aku terlalu malas untuk menghitungnya.

Sapuan angin sore di sisi kanan wajahku membuyarkan lamunanku.  Kini, aku sedang dalam boncengan Airlangga. Dia mengajakku berkeliling rumah sakit menggunakan sepeda. Mulanya, dia bermaksud mengitari taman di pusat kota. Tapi mengingat keadaanku yang tak lebih baik dari kemarin, dokter tak mengijinkannya. Bukan berarti aku diperbolehkan keluar dari kamar. Mendapat ijin untuk jalan-jalan di sekitar rumah sakit saja aku harus membujuk dokter dan kedua orang tuaku berkali-kali.

Airlangga tiba-tiba menghentikan laju sepedanya hingga aku sedikit tersentak. Kupandang punggungnya yang terbalut kemeja hitam polos, sangat kontras dengan warna kulitnya. Dia mengumam pelan yang kedengaran seperti, ‘Apa kau ingin berhenti disini?’

Aku memandangnya bingung. Dia mengucapkan kalimat itu tanpa intonasi, meski sempat kudengar nada pedih di dalamnya. Apa yang dibicarakan Airlangga? Apa ia memintaku turun dari boncengannya, atau... dia ingin membahas perihal hubungan kami?

Entah bagaimana, kami sudah turun dari sepeda dan duduk di bawah pohon di kawasan taman rumah sakit. Kutatap ia dengan pandangan menelusur. Wajah rupawan itu kini dipenuhi riak kesedihan. Sesaat aku tersadar. Mungkin saja aku yang menyebabkan dia bersedih. Kami sama-sama masih remaja, tapi karena penyakitku dia harus selalu datang menjengukku, menemaniku. Dia rela menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat berbau obat ini.

Dan satu-satunya alasan yang masuk akal adalah karena rasa bersalah. Dia merasa bersalah jika tidak menemaniku di masa akhir hidupku. Dia segan meninggalkanku meski sebenarnya dia sangat ingin. Tentu saja, betapa bodohnya aku. Tak ada orang yang mau menjalin hubungan dengan seseorang yang divonis mati dua hari lagi.

Mendadak aku ingin menangis. Kugigit bibir bawahku kuat-kuat. Aku tak tahu apa lagi yang bisa kuperbuat. Aku cuma seorang penyakitan yang hendak mati. Apa yang bisa kulakukan untuk menahannya lebih lama di sisiku kalau dia tak ingin kutahan?

“Kalau itu memang yang terbaik.” kataku tersendat. Untukmu, tambahku dalam hati.

Hari ke-6
Aku sering mengasihani diriku sendiri. Masa dimana aku seharusnya menikmati masa remajaku tak pernah bisa kurasakan. Semuanya selalu berakhir dengan aku yang tergeletak di kasur dengan napas tersengal. Atau yang paling parah, mulutku tak bisa berhenti muntah darah.

Aku tahu keadaanku semakin memburuk, seiring dengan lepasnya Airlangga dari sisiku. Tapi aku bisa apa? Jika orang yang kau cintai menderita karena ulahmu, bagaimana mungkin kau tak melepasnya jika hal itu bisa membuat penderitaannya hilang?

Kutatap langit dari balik jendela kamar ini. Warna langit sangat indah. Ingin kuraih untuk dirku sendiri, tapi tak bisa. Yang kudapati hanya telapak tanganku yang menempel erat di kaca jendela. Setelah menurunkan tangan, aku sadar. Tanganku berkeringat. Kurasakan napasku mulai memberat. Udara bermain-main di rongga kepalaku. Mataku membeliak karena kurangnya pasokan oksigen yang kuhirup. Aku seperti orang tercekik, tak bisa bernapas.

Hari ke-7
Harusnya sekarang aku sedang berlari mengitari kota sambil tersenyum. Harusnya aku mengunjungi tempat-tempat yang dulu selalu kudatangi bersama teman-teman. Menghabiskan waktu dengan mengobrolkan hal-hal tak penting. Andai aku bisa.

Tubuhku sangat memprihatinkan. Hampir seharian aku tak makan karena selalu memuntahkannya. Nutrisi yang kudapatkan hanya dari cairan infus yang masih membalut pergelangan tanganku. Rasanya sakit saat menggerakkan anggota tubuhku karena kini tulangku tampak semakin jelas. Entah sudah berapa kilogram berat badanku turun. Rasa-rasanya, aku bahkan tak bisa merasakan daging saat mengelus lengan atasku.

Karena hal ini, aku hanya bisa berbaring di atas kasur. Aku kesusahan bernapas hingga mulutku sedikit membuka. Ruangan ini panas, terbukti dengan keringat yang terus membasahi kening, punggung, dan telapak tanganku. Tapi anehnya, aku merasa sangat kedinginan. Kakiku rasanya membeku meski jelas-jelas keduanya ditutupi selimut tebal.

Dapat kudengar isak tangis seseorang disampingku. Tangis itu lirih tapi sangat menyakitkan bagi siapapun yang mendengar. Itu pasti ibuku. Tak ada suara lain yang bisa menggetarkan hatiku selain suara ibu. Kenapa dia menangis? Apa karena dia melihat aku, putrinya yang hendak mati ini berpenampilan sangat mengenaskan?

Aku mencoba membuka mata tapi rasanya berat sekali. Terus kucoba tapi tak berhasil. Akhirnya aku menyerah. Aku membiarkan mataku tertutup, sebagai gantinya telingaku mendengar segalanya dengan lebih tajam. Satu-satunya suara yang ingin kudengar adalah suara lembut itu, suara milik ibuku. Awalnya hanya berupa gumaman, namun lama-lama semakin jelas.

“Nak, kamu harus tahu. Ibu sangat mencintaimu, lebih dari apapun. Kalau ibu bisa mengubah takdir, ibu ingin ibu saja yang menanggung penyakit itu. Bukan kamu, Galuh!”

Aku pun sangat mencintai ibu. Aku tak ingin meninggalkan ibu. Aku ingin terus bersama ibu.

“Begitupun Airlangga. Dia mencintaimu, Nak! Ibu bisa tahu itu hanya dari matanya. Caranya menatapmu seolah hanya kamu kebutuhan hidupnya.”

Apa? Apa yang baru saja ibuku katakan?

“Dia memutuskan untuk meninggalkanmu karena ibu yang menyuruhnya. Ibu ingin dia menjalani kehidupan yang lebih baik. Karena semenjak mengetahui kamu sakit, dia tak pernah absen untuk datang kesini. Dia sampai tak memperhatikan penampilannya. Kamu pasti menyadari kalau rambutnya sedikit lebih panjang.”

Jadi begitukah?

“Awalnya dia menolak. Dia berkata tak akan melepasmu. Ibu bahkan harus menangis sambil memohon berulang kali, hingga akhirnya dia luluh. Dia tak sanggup melihat ibu menangis.”

Dadaku terhentak karena pernyataan ibuku barusan. Aku tak bisa berpikir apapun lagi. Aku hanya ingin melihat orang tuaku. Aku ingin melihat Airlangga. Dan mungkin karena tekad yang menggebu-gebu, aku berhasil membuka mataku. Kulihat ibuku kaget meski hanya sedetik berlalu. 

Kemudian tiba-tiba ibuku menghambur ke arahku, memelukku. Bahuku basah oleh air mata yang bukan milikku. Tubuh ibuku bergetar hebat. Ingin balas kupeluk tubuhnya, tapi tanganku tak kuat. Tubuhku kini terlalu ringkih dan lemah.

Entah sudah berapa lama kami terdiam di posisi ini hingga ayahku menepuk pundak ibuku lembut, menyuruhnya untuk mundur. Beliau tersenyum padaku. Aku ingin menangis melihat kelembutan di wajahnya yang bijaksana. Ingin kubalas, tapi lagi-lagi tak bisa. Bahkan untuk tersenyum saja aku sudah tak kuat!

Pandanganku beralih ke satu sosok di belakang ayah dan ibu. Dia berdiri dengan kepala sedikit menunduk. Melihat mataku yang tak lepas dari keberadaan Airlangga, ayah dan ibu memilih mundur. Mereka memberikan sedikit waktu buat kami.

Setelah pintu ditutup, Airlangga maju mendekatiku. Tangannya terkepal erat hingga menimbulkan gurat-gurat darah disana. Dia masih menatapku dengan pandangan yang dipenuhi kepedihan. Tatapannya melelehkanku seketika. Tak lagi kurasakan sakit yang mendera sekujur tubuhku. Setidaknya, selama ia menatapku dan ada didekatku.

“Aku minta maaf, untuk kejadian tempo hari.”

Aku menggeleng pelan karena cuma itu yang bisa kulakukan. Airlangga mendadak merangkulku dalam pelukannya. Dia memelukku erat sekaligus lembut pada saat yang bersamaan. Sementara aku merasa begitu damai, dia mengarahkan mulutnya ke dekat kupingku. Dia membisikkan sebuah kalimat yang membuatku menangis saat ini juga. Tuhan, aku sangat mencintai lelaki ini! Tidak bisakah aku diberi sedikit waktu?

Aku terbatuk pelan hingga membuat Airlangga melepas pelukannya. Dia menatapku khawatir yang malah membuatku sangat nyaman dan tak lagi kedinginan seperti tadi.

“Kau tak apa?” dia bertanya dengan pandangan menyakitkan.

Ingin kuberkata bahwa aku baik-baik saja, tapi tubuhku berkata lain. Mulutku kembali memuntahkan darah. Kali ini jumlahnya lebih banyak dari kemarin. Darah itu menodai selimut dan kemeja putih yang dikenakan Airlangga. Dadaku sangat sesak hingga tak memungkinkanku untuk sekedar mengambil napas. Seluruh sel di tubuhku rasanya berhenti bekerja. Semuanya diam hingga aku tak sadar sejak kapan aku menutup mata.

Samar-samar, kudengar teriakan Airlangga dan jerit tangis ibuku memenuhi ruangan ini. Kudengar juga langkah-langkah kaki yang berebut memasuki kamar ini. Sempat kulirik Airlangga yang juga balik menatapku takut. Dia tampak sangat ketakutan entah karena apa. Matanya tak lepas dari memandangku. Ah, aku pasti akan sangat merindukannya di sana.

Mendadak, ruangan yang dipenuhi orang ini berubah hening. Tak ada suara apapun yang kudengar selain desah napasku yang tinggal setengah. Setelahnya, aku tak mendengar apa-apa lagi.
---

‘Perasaanku tidak berubah, dan mungkin akan selamanya seperti itu.’

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram