The Stranger Who Gets Me



Back then, when I was younger –from middle school– I have these friends. They’re generous, amazingly kind, and that makes me wondering, membuatku bertanya kenapa mereka bersedia untuk berteman denganku. Aku yang tidak sabaran, keras kepala, spoiled child, bahkan si ugly duckling.

Lucky me!

Pertama kali tahu siapa mereka, yang kulakukan hanya bicara banyak tentang diriku. Padahal aku bukan orang yang bisa langsung terbuka pada orang yang baru saja kukenal. Yes, I’m an introvert. But with them, I feel some... connection, I guess. Aku merasa bebas menjadi diriku, tidak ada yang perlu kusembunyikan dari mereka. Just like my sisters with different bloodline.


Ketika menatap foto ini, bayangan kejadian itu seperti baru terjadi kemarin. Seolah besok aku menenteng tas sambil memasuki gerbang itu. Seluruh angkatan berkumpul di aula tempat kami menerima OSPEK. Sibuk mencari tanda tangan senior jahil. Meneliti wajah-wajah baru yang kelak akan dirindukan.

Semuanya masih terekam jelas di benakku. Kelas olahraga, menciptakan puisi, berpisah kelas, story telling, olimpiade matematika, perpustakaan, terlambat masuk kelas, ‘dipermalukan’ karena tidak hafal bahasa arab, les tambahan, hereditas sel, piket, ujian nasional, menunggu pengumuman kelulusan. How fast time flies!

Mengingatnya ternyata cukup menyakitkan.

Setiap kali melihat mereka, sekalipun dari kejauhan, bibirku langsung membentuk seulas senyum. I don’t know why or how. It just happens. Dan itu selalu mengejutkanku, bagaimana kami dipertemukan, bagaimana campur tangan Tuhan membantuku melewati masa sulit itu dengan menghadirkan mereka. I’m so blessed I almost cry.

They’re not just friend. They’re more than that. Dan untuk delapan tahun canda, tawa, amarah, bahkan tangis yang kita bagi bersama, kuucapkan terima kasih.

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram