This one also created many years ago, right after I wondered how two person with different religion can establish their relationship. It sounds hard, too many conflicts and they have to struggle together in a whole new world. Well, at least thats what they told me.
“Aku...”
Suaramu bergumam keluar tanpa sempat kau tahan. Rasanya
nyeri di ulu hatimu bertambah kuat. Menggelakkan sedikit bagian punggungmu
untuk bergetar pelan. Dan anehnya, kau masih sempat memaksakan matamu agar
bertumbukan dengan sinar keperakan bulan.
Padahal kau tahu pasti konsekuensi yang akan kau terima
nanti. Mungkin saja otakmu akan menambah frekuensi data tentang orang yang saat
ini paling kau hindari. Atau malah mungkin luka yang saat ini kau tanggung tak
akan pernah mengering.
Seolah sama seperti sebelumnya, bahwa apapun yang
menyangkut orang itu, selalu saja menyakitimu.
“Kenapa?” Tak ada
suara menyahuti lirihanmu. Bahkan bulan terlihat diam, dengan angkuhnya ia
memandangi kesendirianmu.
Kau mengambil napas terpejam lalu menghembuskannya perlahan,
masih dengan bayangan wajah orang yang kau kasihi, seakan rupa lelaki itu
melekat erat di satu sudut otakmu.
Senyum miris tercetak jelas tanpa kau ingini. Kau tantang
bulan dengan kepala mendongak. Wajah ayu milikmu datar, meski gurat pedih nyata
dalam bola mata itu.
Satu tarikan napas kau ambil sebelum berucap, “kenapa kami
harus berbeda?”
Ucapanmu terdengar menuntut, seakan bulan bisa menjawabnya,
seakan bulan adalah hakim atas semua yang kau alami.
Sedetik berlalu kau mendengus. Kau merasa tolol karena
bicara sendiri, dengan suara dramatis, tengah malam, diatas loteng, sambil
menghadap bulan. Aku pasti sudah gila.
Kau tersenyum geli, pikiranmu kadang membuatmu ingin
menertawainya. Tentu saja kau gila. Mana ada makhluk hidup yang masih terjaga selarut ini hanya untuk memprotes di hadapan bulan, yang jaraknya berkilometer jauhnya dari tempatmu berdiri saat ini.
Mata beningmu teralih pada bintang yang mendadak berkelip
mencolok. Kau pandangi, lama.
“Berkilau...” Kau berkedip. “Mata Rangga.”
Kau tatap langit malam lekat. Hitam.
Lalu kembali menyentuh baju tidurmu yang berantakan ditiup angin. Mata beningmu
memandangi kain mahal yang kaukenakan. Berantakan.
"Hitam..." Kau meneguk ludah. Tanganmu bergerak sendiri memegangi
ujung bajumu itu.
"Berantakan." Kau menyambungkan kata itu.
Hitam, Berantakan. Hitam dan berantakan. Rambut—
Rangga.
Lagi- lagi kau tersenyum miris. Batinmu menguak pertanyaan
yang jelas- jelas seperti menyalahkan Tuhan. Kenapa Tuhan menciptakan kami berbeda? Kenapa tak diciptakan dalam satu
kepercayaan yang sama? Bukankah dengan begitu tak ada yang perlu disesali?
Bukankah dengan begitu, kami bisa melaksanakan ibadah dengan cara yang sama?
Kau menghela napas berat, dalam. Sebanyak apapun kau marah, berapa kali pun pertanyaan itu terlontar, tetap tak
akan mengubah apapun.
Kau tetap berdoa dalam sujudmu, dan dia melantunkan lagu kasih penuh khidmat di sudut kota, jauh darimu.
Tetes-tetes hujan mulai turun perlahan, mengaburkan
pandanganmu. Tapi anehnya, tetes-tetes hujan itu terasa hangat di wajahmu.
Apakah benar itu air hujan? Kau tak merasakan bagian tubuhmu yang lain basah.
Kau paksa tubuhmu berbalik, meninggalkan atap tempatmu berpijak, menjauhi senyumnya yang muncul di pelupuk matamu.
I always ask, 'Whats wrong with being different?'
There's nothing wrong with that. Different doesn't mean wrong.
But then I realized, that falling in love and having a relationship are two different things.

0 komentar:
Posting Komentar