It really is beautiful, isnt it?
When I was a kid, I always imagining things. What if I was born in there? How does it feel, the sakura leaves fall into my hands? When can I go there? Who'll be able by my side at that moment? Will they feel that happiness too?
Tak ada yang salah dengan mimpi. Semua orang bebas bermimpi apapun. Sepertiku, pohon sakura akan selalu jadi angan kecilku sampai sekarang. Mungkin bagi sebagian orang itu hanya destinasi sederhana. Its just a tree afterall. Melihat sakura bermekaran bisa jadi telah mereka lakukan berulang kali.
But not for me.
Im not rich, nor my family. We're just an ordinary people who need to keep alot of money first just to get there. Bahkan setelah si anak tunggal ini berumur 20 tahun, belum sekalipun pernah menginjakkan kaki ke negara tetangga. Kenapa? Karena ada banyak hal yang jauh lebih diprioritaskan.
Bagi ayahku, pendidikan itu nomor satu. Buatnya, aku, si anak perempuan yang bandel luar biasa ini, harus mengenyam pendidikan setinggi yang bisa digapai manusia. Tak apa jika dirinya tak sempat berkeliling Indonesia, menggugurkan angannya semasa muda hanya agar aku tak tertinggal oleh jaman. Tak apa, 'Untuk anakku.' dia bilang.
(After hearing that, how could I not cry?)
Setelahnya, tak pernah kuungkit lagi perkara mimpiku. Tiap kali televisi menayangkan suasana saat musim semi, buru-buru kuganti saluran, apalagi kalau ayahku sedang duduk disampingku. Aku tak ingin terlontar rengekan tentang betapa inginnya aku pergi kesana. Tentang betapa menyenangkannya bisa merasakan lambaian angin dibawah pohon sakura.
Barangkali mimpiku bisa jadi nyata, tapi belum akan kulakukan. Karena aku harus menumbuhkan mimpi ayahku dulu. Bagaimana semua angan ini terbayar, ketika melihatnya tersenyum bangga pada si anak cerewet yang dulu tak mau lepas dari gendongannya.
But not for me.
Im not rich, nor my family. We're just an ordinary people who need to keep alot of money first just to get there. Bahkan setelah si anak tunggal ini berumur 20 tahun, belum sekalipun pernah menginjakkan kaki ke negara tetangga. Kenapa? Karena ada banyak hal yang jauh lebih diprioritaskan.
Bagi ayahku, pendidikan itu nomor satu. Buatnya, aku, si anak perempuan yang bandel luar biasa ini, harus mengenyam pendidikan setinggi yang bisa digapai manusia. Tak apa jika dirinya tak sempat berkeliling Indonesia, menggugurkan angannya semasa muda hanya agar aku tak tertinggal oleh jaman. Tak apa, 'Untuk anakku.' dia bilang.
(After hearing that, how could I not cry?)
Setelahnya, tak pernah kuungkit lagi perkara mimpiku. Tiap kali televisi menayangkan suasana saat musim semi, buru-buru kuganti saluran, apalagi kalau ayahku sedang duduk disampingku. Aku tak ingin terlontar rengekan tentang betapa inginnya aku pergi kesana. Tentang betapa menyenangkannya bisa merasakan lambaian angin dibawah pohon sakura.
Barangkali mimpiku bisa jadi nyata, tapi belum akan kulakukan. Karena aku harus menumbuhkan mimpi ayahku dulu. Bagaimana semua angan ini terbayar, ketika melihatnya tersenyum bangga pada si anak cerewet yang dulu tak mau lepas dari gendongannya.

0 komentar:
Posting Komentar