Have any of you spontaneously burst into song lately?
Like, the melody just can't get out of your head no matter how hard you try?
Well, I did.
And that's not nearly as much fun as it sounds like.
Awal bulan April, aku mulai merancang segala mimpiku. Dari yang sanggup membuat ayahku tertawa geli (because he thought that was ridiculosly impossible (at least for him!)) sampai yang hanya perlu satu langkah berani lagi agar bisa terwujud. Mudah, jika aku mengesampingkan semua resiko yang mungkin terjadi. Idealisme anak muda, dorongan kuat dari keinginan untuk tahu apakah benar bermain salju itu menyenangkan. Apakah pohon sakura terlihat seindah yang tampak di foto. Apakah bertemu dengan orang-orang baru dapat mengubah perspektifku dalam memandang dunia. I dont know. Dan hanya ada satu tindakan untuk memastikan hal itu, aku harus menyaksikannya, aku harus mengalaminya!
Tapi, sebagai makhluk hidup generasi millenia yang menolak untuk mengalah pada keinginan, aku tidak mengambil satu langkah berani itu. Aku sengaja melewatkannya sekalipun kepalaku berteriak tak setuju, dengan tega bayangan-bayangan indah itu melenggang di balik mataku. Seolah ingin membuatku menyesali keputusan yang sudah kuambil.
Luckily, I have this stubborn side of me yang menahanku untuk menyesal. Karena apapun yang sudah kuputuskan, baik atau buruk hasilnya, tetap harus kujalani. Toh keputusan itu berdasarkan hal lain yang menurutku lebih diprioritaskan. Seperti ketika kita sedang haus dan yang tersedia adalah air putih dan ice cream. Jika aku tidak mendahulukan kesehatan ginjalku, maka pasti ice cream yang kupilih karena itu jauh lebih lezat, menggiurkan dibanding air putih. But I'm not. Aku gadis berumur dua puluh tahun, telah bisa mengambil keputusan yang baik untuk diriku, dan hidupku.
Hal yang sama pernah/ akan terjadi pada diri kita. Dihadapkan pada pilihan karena hidup punya banyak pilihan. Merasa ragu apakah pilihan yang sudah kita ambil benar. Padahal wahai temanku, tidak ada pilihan yang salah. Jika hasilnya buruk, tidak memenuhi harapan, kita selalu bisa mengubahnya. Make strawberry milkshake when life gives you lemon, and let them wonder how you did it.
Lalu apa hubungannya dengan pertanyaanku di awal?
Well, karena satu langkah berani itu telah kulewatkan, satu mimpiku harus tertahan, maka yang bisa kulakukan adalah mengambil satu bagian darinya, lagunya. Mendengar alunan musik itu setidaknya bisa menjaga agar mimpiku tak kabur dibawa waktu, walaupun keinginan itu makin membludak. But, whatever.
Mimpi itu akan jadi nyata. Mungkin bukan sekarang, tapi pasti!

0 komentar:
Posting Komentar