[STORIES] A Hopeless Crush

First of all, I would like to say that I'm never going to stop writing. That's my passion, my way to be all of me. And to have a novel is kinda my dream from the very start.
So, let's begin with this one. If this is good enough for you, make sure to tell me 😊


Sesaat setelah pintu dibuka, seorang guru dengan perawakan tinggi melangkah memasuki ruangan. Dari garis wajah yang tegas dan rambut pirang panjang hingga ke pinggang, orang akan mengira ia semacam mahluk berdarah dingin. Belum lagi iris mata sewarna ungu janggal yang hanya mungkin dihasilkan oleh iris merah yang tertutupi contact lens biru pekat. Siapa yang menyangka kalau ternyata pengajar wanita itu cukup disegani di kampus ini karena pribadinya yang hangat?

Abel—salah satu murid paling telaten di seantero kampus, cepat- cepat membereskan buku pelajaran sebelumnya begitu mengetahui Mrs. Jane tengah menatapnya. Tatapannya memperingati meski senyum lebar terpampang di wajah anggun itu.

Menuliskan beberapa deret kata hingga papan tulis di depan kelas tak sepolos tadi, Mrs. Jane membalik badan hingga menghadap puluhan pasang mata yang menatapnya ogah. Deret kata tadi adalah ‘Hubungan Alam Sosial dengan Hukum yang Terbentuk dalam Fisika.’ Wajar saja kalau para mahasiswa itu mendadak lesu ditempat.

Well, termasuk Putra tentunya.

Pemuda kelebihan jangkung yang duduk di pojok ruangan itu kelihatan lebih asyik memandangi kumpulan mahasiswa yang sedang berjemur bersama ocehan satpam yang seperti tak ada hentinya. Mereka terpaksa ditahan dihadapan mahasiswa lain karena terlambat dua menit.

Tangan kirinya menopang dagu santai, “karena dua menit mereka harus menanggung malu begitu, huh?” Putra menggeleng miris, tapi tak berhasil, mengingat seringainya terlihat kejam dan senang di saat bersamaan. “Menggelikan!”

Angga, dengan pendengaran yang terlampau peka, mencoba berempati pada ucapan Putra, “terlambat tetap saja terlambat ‘kan?”

“Apakah mereka punya kesenangan mempermalukan orang lain?” Putra tidak menoleh ke arah Angga, seolah-olah lehernya terpaku menatap ke luar jendela. Kebetulan sekali kelas pertamanya hari ini berada paling depan dekat gerbang, di lantai ketiga, tanpa balkon apapun.

Great! Dia tak akan mudah kabur dari sini.

“Mungkin,” Angga mengangkat bahu lalu. “karena itulah kampus ini menjadi sangat berbeda.” Tangannya tak berhenti menggores pensil di atas kertas putih. Entah apa lagi yang dia gambar kali ini.

“Berbeda dengan menjadikan kita sebagai hewan peliharaan?” suara Putra berbisik, hanya dia—dan Angga yang bisa mendengarnya.

“Hewan peliharaan?” Angga membeo, ekspresinya setengah jijik setengah terhibur. Tak diragukan lagi dia menjadi teman Putra yang paling dekat, keduanya bisa jadi berbahaya bahkan disaat orang mengira mereka tampak tenang.

“Jika menurutmu begitu, lalu kenapa kau bisa bertahan selama tiga tahun disini?” Seluruh kegiatan menggambar Angga berhenti, namun kepalanya masih tak menoleh. “apa ini semua akibat kungkungan garis keturunanmu atau—“ Begitu menoleh, Angga dengan sengaja memutuskan ucapannya. Putra tak memperhatikan dan ia merasa percuma bicara panjang lebar.

Mengikuti arah pandang kawannya, Angga tak terheyak atau sebagainya. Pemandangan seperti itu sudah terlalu sering diperlihatkan Putra padanya, setidaknya selama tiga tahun terakhir. Dan kini ia tahu jawaban dari pertanyaannya sendiri.

Mendengus pelan karena menyadari tingkah konyolnya barusan, Putra berpaling menatap Angga, “apakah menurutmu itu mungkin?”

“Kau tahu jelas jawabannya,” Tanpa sadar Angga memandang ke arah—tepatnya sesosok yang tadi diperhatikan Putra, hanya sedetik sebelum ia kembali menekuni gambarnya. “tapi selalu ada kemungkinan.”

“Maksudmu keajaiban?” Pandangannya tak putus menghadap depan, seolah tak ada hal lain yang bisa membuatnya mengalihkan pandang.

Angga mengangguk samar, “semacam itu.”

“Aku tak percaya keajaiban,” ekspresinya tenang, tapi perih di matanya kentara jelas. “jika memang hal seperti itu ada, tak akan muncul orang yang mau berkerja keras.”

“Kenapa kau tak mempercayainya?”

Mulut Putra sudah membuka, hendak menjawab, tapi tertahan sebab itu bukan suara Angga. Terlalu feminin dan nyaring untuk ukuran seorang pria. Untunglah dia segera meyadari kalau si pemilik suara—Mrs. Jane terlalu marah untuk mendengar penjelasannya. Jadi dia hanya diam dan menatap si rambut pirang se-innocent mungkin. Plus merutuk pelan kenapa kelas ini harus dibangun di lantai tiga.

“Saya tahu pelajaran saya bukan favourite seorang Putra Mahesa,” Putra merasa Angga—di sampingnya menahan tawa geli yang sudah di ujung tenggorokannya, “ini juga berlaku untukmu,  Angga.” Perlahan senyum lepas dari wajah Angga dan beralih pada Putra.

Posisi Mrs. Jane tak berubah sejengkal pun, masih berdiri tegak di depan kelas, menghadap puluhan mahasiswa, tapi matanya hanya berfokus pada dua orang, yang paling tampan dan populer dan diingini seluruh gadis di seantero kampus.

“Saya tahu saya mempesona, saya merasa tersanjung kau mau melukis saya dengan tangan emas milikmu,” Angga tersenyum sopan, setengah ngeri sebenarnya. Heran, gurunya itu mengetahui hal-hal yang harusnya orang lain tak tahu. Demi apapun, tak ada yang pernah menangkap basah dirinya menggambar di kelas manapun!

“Berterima kasihlah pada bakatmu, itu membebaskanmu kali ini,” Angga ingin bertanya kenapa tapi itu hanya akan semakin mempersulitnya, jadi dia hanya mengangguk sopan sambil menggumam ‘Thank you, ma’am.’

“Dan untuk anda Mahesa,” Putra tak bergeming sekalipun tatapan seluruh kelas mengarah padanya. “silahkan maju ke depan dan berdiri menghadap teman- temanmu!”

Merasa tak ada pilihan, Putra bangkit dari duduk, diiringi tatapan kagum para cewek di kelas itu. Mungkin karena setelan kaos biru tua lengan panjang bergaris yang melekat pas di tubuhnya, atau jam tangan Charlie Jill perak di pergelangan tangan kirinya, atau rambut pirang platina lembutnya. Pokoknya, apapun itu, tak bisa dipungkiri kalau sosok Putra memang terlahir sempurna. Rupawan, bukan seorang teroris mode, dan punya kuasa.

Mrs. Jane mencoba mengabaikan aura Putra yang kelewat menarik, dia mengakui itu. Butuh beberapa detik baginya untuk kembali fokus saat mata kelabu Putra menatapnya. Well, dia juga seorang wanita yang bisa terpesona, okay?

“Karena sepertinya kau tak tertarik dengan mata pelajaran saya, bagaimana jika kita bahas hal yang kau bicarakan bersama Angga,” mata Putra mengerling tajam, dia benci seseorang menguping pembicaraannya. “kenapa kau tak percaya keajaiban?”

“Tak ada bukti otentik dalam hidupku mengenai hal itu,” Putra menjawabnya gampang saja.

Mrs. Jane menatap pemuda itu lama, dengan dahi mengernyit, seperti ada tanduk muncul di kepala Putra. “Apa kau pernah jatuh cinta?” Pengalihan topik, dan Putra bingung harus senang atau gundah dengan topik baru ini.

Matanya menatap lantai marmer dengan pandangan menerawang. Benaknya penuh perhitungan akan konsekuensi kalau dia mengucap jujur. Mungkin lebih baik kalau semuanya tetap tersimpan rapat, tak tersentuh. Tapi kapan lagi dia mendapat kesempatan begini?

“Pernah, ma’am,” jawab Putra pada akhirnya. Dia bisa saja jujur tapi tetap, semua rahasianya tetap akan jadi rahasia.

Semua nyawa diruangan ini menarik napas tajam, termasuk Abel, satu-satunya gadis yang tak mau ambil pusing tentang Putra yang selalu dielu-elukan.

“Aku yakin kita semua ingin tahu sosok seperti apa yang bisa menarik perhatian keturunan Mahesa, right?” tanya itu disambut anggukan antusias para gadis.

Sementara Abel menatap Putra tak percaya, memangnya si pirang itu bisa tertarik dalam artian cinta? Well, Abel ingin tahu siapa.

Putra mengerjap sebentar, “bagaimana kalau kalian menebak seperti apa dia?”

Mendadak ruangan menjadi sangat gaduh, penuh pertanyaan terlontar seputar sosok yang dimaksud Putra.

“Apa dia tinggi?” Dihar, untuk pertama kali di hari itu mengajukan pertanyaan selain tentang tumbuhan.

“Tak lebih tinggi dariku,” Putra menjawabnya dengan mata tertutup, tanpa sadar kelihatannya.

“Apa rambutnya warna pirang stroberi?” Giliran Karina bertanya dengan aksennya yang sangat kentara.

“Tidak, rambutnya hitam, sangat kelam.” Matanya masih terpejam, seolah mengingatnya dengan begitu hikmat.

“Dia pasti cantik” Angga berucap menggoda setengah mengejek. Sayangnya, Putra tak menatap Angga saat mengguratkan konfirmasinya.

“Ya, dia memang sangat cantik”

Nurmala mengerling Putra yang tampak sibuk dengan dunianya sendiri, “Aku berani bertaruh kau sangat menyukainya.” Gadis jenius itu pasti sudah mengetahuinya, Shit!

“Lebih dari itu,” Putra tersenyum penuh ketenangan, coba menyingkirkan makian. “hingga aku tak bisa mengatakannya.”

Kini semua menjadi saksi kalau Putra Mahesa bisa memunculkan ekspresi mengagumkan hanya dengan mengingat sosok itu. Well, bagi Angga dan Nurmala—yang sudah tahu sang pemilik hati, Putra bukan sedang mengingat, tapi memandang.

Abel sendiri heran karena Putra menatapnya—tepat di mata saat mengucapkan kalimat yang terakhir. Membuat jantungya berdegup aneh, cepat dan sesak, penuh oleh rasa manis imajinasi yang baru sekali ini Abel rasakan.

“Apa yang membuatmu tertarik padanya?” Bahkan Lola dan Loni—si kembar konyol tapi menarik dibuat penasaran oleh pewaris tunggal Mahesa itu.

Putra memejamkan mata hikmat, sebelum membukanya dengan pandangan aneh, karena hanya ditujukan pada Abel, “I don’t know exactly,” dia diam sebentar, tanpa ada maksud untuk merangkai kata yang ingin diucapkan. “But, when I look into her eyes, it’s just like I’m standing in front of a mirror,”

Pandangan Putra semakin menjadi-jadi, seolah dia ingin memberitahu Abel tentang sesuatu yang menggebu dalam dirinya. “I can see all of me. My good, my bad, my wish, even my future.”

Semuanya terpana melihat bagaimana cara Putra menyampaikan sebagian pikirannya—yang bisa jadi terakhir kali mereka saksikan. Bagaimana mungkin seorang Putra dengan didikan paling keras dari Mahesa senior bisa berekspresi selembut itu?

Mrs. Jane, yang merasa terpompa adrenalinnya akibat penasaran, memutuskan meninggalkan pelajaran dan bertanya lebih jauh, “apakah dia kekasihmu?”

“Belum,” Putra merasa air liurnya menjadi lebih pahit. “dia bahkan tak tahu.”

“Kau tak ingin mengatakannya?” Galih, bertanya menantang, dan matanya menyiratkan kalau Putra seorang pecundang.

Menahan keinginan untuk mencungkil mata saingannya itu, Putra mendengus kasar.

“Sangat,” Keadaan kelas makin hening, tak ada yang berani buka mulut. “tapi tidak, aku takkan mengatakannya.” Senyum Putra sangat kentara dipaksakan, Abel sadar dan entah kenapa dia tak kuat melihatnya.

“Kurasa kau punya alasan yang kuat,” Angga menggumam, coba menyelamatkan kawannya. Dia tahu Putra tak boleh mengatakan sebabnya, karena keadaan akan menjadi lebih rumit.

Thanks, bro!

“Abel, ada yang ingin kau utarakan?”

Abel tersentak saat Mrs. Jane mengarahkan atensi padanya, begitupun Putra saat keduanya tanpa sengaja berpandangan.

Gadis berambut panjang itu mengambil napas panjang, usaha untuk mengisi paru-parunya yang mendadak kering, “kupikir tak ada, Mrs. Jane.”

“Ada yang mengganggu pikiranmu?” Suara Putra bukannya menenangkan justru membuat pita suara Abel tersendat. Ini pertama kalinya mereka berinteraksi dalam setahun terakhir, sekalipun Putra selalu mengambil kelas yang sama dengan Abel, tapi nyatanya keberadaan Putra seperti kasat mata bagi sang gadis beriris hijau cemerlang yang selalu Putra puja.

“Ya,” Abel berdehem sebentar, tenggorokannya benar-benar kering sekarang!

Aku sedang berpikir, apa alasanmu begitu kuat sampai kau tak bisa mengatakannya?” Abel tak berani menatap Putra sekarang. “Maksudku, apa kau tak menginginkan orang itu?”

Putra lagi-lagi menatapnya aneh, well, setidaknya itu anggapan Abel.

“Aku menginginkannya, Abel,” pemuda itu tersenyum, semakin tampan tentu saja. “tapi ada konsekuensi yang harus dibayar di tiap keputusan.” Tatapannya yang biasa kejam menjadi lunak begitu menatap Abel, juga menyiratkan kegembiraan.

“Apakah ini tentang kau atau tentang dia?” Nada bicara Abel nampak masih belum puas.

Tapi Putra hanya tersenyum kali ini, sudah sampai batas rupanya.

Hingga akhirnya Mrs. Jane mempersilahkan Putra untuk duduk karena waktu pergantian kelas harusnya lima menit yang lalu. Semuanya tampak terburu-buru mengemasi buku mereka, meski tak sedikit yang masih penasaran, sesekali mereka menengok ke arah Putra.

Putra sendiri segera menyusul Angga yang terlalu bersemangat ke kelas berikutnya, kelas melukis ngomong-ngomong, jadi wajar.

Mendadak sebuah tangan putih mencengkram lengannya, menahannya untuk pergi. Senyum tak bisa ditahan muncul di wajah Putra begitu mengetahui si pemilik tangan.

Abel tak bisa memungkiri rasa nyaman —walau cuma sedetik— saat tangan mereka bersentuhan. Rasa nyaman itu aneh, karena Abel tak merasakan getaran atau paling tidak sengatan. Yang ada justru rasa ingin mengulangi lagi menyentuh kulit Putra. Oh, otaknya mulai gila!

“Ada yang bisa kubantu, Abel?” Suara Putra terdengar manis dan lembut seperti kapas gula-gula.

“Bisakah kita bicarakan hal ini selepas kuliah?” Tatapan Abel tepat menuju mata Putra hingga dalam hati dia mengaguminya. Sangat kelabu, namun begitu terang di saat yang sama.

“Tentu, kapanpun kau siap,” Putra tersenyum lembut—penuh kemenangan. /selama tidak membongkar rahasiaku./ tambahnya dalam hati.

And, that's the end of it.
Has anything in mind?

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram